Recent Posts

22 Mei 2016

KONSEP DASAR PEMOGRAMAN


1.1. Pengenalan
komputer adalah mesin yang dapat melaksanakan seperangkat perintah dasar (instruction set). Agar komputer dapat melakukan sesuatu hal, harus diberikan perintah yang dapat dilaksanakannya, yaitu dalam bentuk kumpulan perintah-perintah dasar. Program komputer adalah sekumpulan instruksi yang dikenal oleh komputer dan disusun menurut urutan yang logis untuk menyelesaikan suatu masalah. Bahasa pemrograman adalah bahasa yang dapat diterjemahkan menjadi kumpulan perintah-perintah dasar tersebut. Penerjemahan dilakukan oleh program komputer yang disebut kompilator. Sintaks dari bahasa pemrograman lebih mudah dipahami oleh manusia daripada sintaks perintah dasar. Namun tentu saja komputer hanya dapat melaksanakan perintah dasar itu. Maka di sinilah peran penting kompilator sebagai perantara antara bahasa pemrograman dengan perintah dasar. Kegiatan membuat program komputer dengan menggunakan bahasa pemrograman disebut pemrograman komputer. Untuk dapat membuat program komputer, harus dikuasai bahasa komputer. Berbagai bahasa komputer telah diciptakan untuk membantu manusia memprogram komputer. Berdasarkan tingkatannya dikenal beberapa tingkat bahasa pemrograman diantaranya:
a. Bahasa Pemrograman tingkat dasar seperti: Bahasa Mesin, Bahasa Assembley.
b. Bahasa Pemrograman tingkat tengah seperti: Bahasa C, Bahasa FORTH.
c. Bahasa Pemrograman tingkat tinggi seperti: Bahasa Pascal, FORTRAN, COBOL, dan lain-lain.

Bahasa pemgrogram tingkat dasar, sebagai hirarki pertama, disebut juga bahasa generasi pertama, bahasa ini sangat tergantung pada jenis CPU yang dipakai oleh komputer itu. Bahasa ini sangat sulit dipelajari, karena sifatnya yang sangat tergantung pada mesinnya itu 2
(machine dependent). Untuk menguasai bahasa ini, harus dipelajari dan dikuasai teknologi dan arsitektur komputer, matematika diskrit, elektronika, dan lain-lain. Bahasa ini masih menggunakan simbol-simbol yang bersifat mnemonic.
Bahasa pemrograman tingkat tengah, sifatnya sudah lebih mudah daripada bahasa pemrograman tingkat dasar, perintah-perintahnya sudah lebih mudah dibaca sebab sudah menggunakan huruf-huruf. Bahasa pemrograman tingkat tinggi adalah bahasa komputer yang sudah mirip dengan bahasa manusia. Perintah-perintahnya sudah dibuat dalam bahasa yang mudah dimengerti manusia, seperti PRINT, WRITE, IF, THEN, ELSE, dan lain-lain.

1.2. Tahapan dalam Pemrograman
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah dalam pemrograman dengan komputer adalah:
1. Defenisikan Masalah
a. Tentukan apa yang menjadi masalah
b. Tentukan data input yang diperlukan
c. Tentukan output yang diinginkan
2. Buat bagan dan struktur cara penyelesaian
a. Bagan secara global
b. Deskripsikan tugas masing-masing subprogram
3. Pilih Metode Penyelesaian
a. Pilih struktur data dan Algoritma terbaik
4. Pengkodean
a. Pilih bahasa pemrograman yang sesuai
b. Menterjemahkan algoritma ke bahasa pemrograman
5. Mencari Kesalahan
a. Kesalahan sintaks (penulisan program)
b. Kesalahan Pelaksanaan: Semantik, Logika, dan ketelitian
6. Uji dan Verifikasi Program
7. Dokumentasi Program
8. Pemiliharaan Program
a. Memperbaiki kekurangan yang ditemukan kemudian
b. Memodifikasi, karena perubahan spesifikasi

1.3. Diagram Alir
Konsep pemrograman dapat digambarkan juga dengan menggunakan diagram alir (flowchart). Diagram alir adalah simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan sebuah pernyataan logika pemrograman serta aliran logika yang ditunjukkan dengan arah panah. Ada dua jenis diagram alir yaitu:
1. Diagram alir sistem yaitu bagan dengan simbol-simbol tertentu yang menggambarkan urutan procedure dan proses suatu file dalam suatu media menjadi file di dalam media lain, dalam suatu system pengolahan data.
2. Diagram alir program yaitu bagan dengan simbol-simbol tertentu yang menggambarkan urutan proses dan hubungan antar proses secara mendetail di dalam suatu program.

Berikut merupakan beberapa contoh simbol yang disepakati oleh dunia pemrograman: Untuk memahami lebih dalam mengenai diagram alir ini, berikut ini diberikan beberapa buah kasus sederhana.
Kasus 1:
Buatlah sebuah rancangan program dengan menggunakan diagram alir, mencari luas persegi panjang. 4
Solusi 1:
Perumusan untuk mencari luas persegi panjang adalah:
L = p. l
dimana, L adalah Luas persegi panjang, p adalah panjang persegi dan l adalah lebar persegi.
Flowchart 1
Keterangan 1:
1. Simbol pertama menunjukkan dimulainya sebuah program.
2. Simbol kedua menunjukkan bahwa input data dari p dan l.
3. Data dari p dan l akan diproses pada simbol ketiga dengan menggunakan perumusan L= l. p
4. Simbol keempat menunjukkan hasil output dari proses dari simbol ketiga.
5. Simbol kelima atau terakhir menujukkan berakhirnya program dengan tanda End.

Kasus 2:
Mencari akar-akar persamaan kuadrat f(x) =ax2+bx+c=0
Solusi 2:
Telaah masalah terlebih dahulu, yaitu perumusan nilai akar-akar persamaan kuadrat tersebut: 5
Misalkan
D=b2-4ac, selanjutnya
jika untuk nilai D >= 0, solusinya adalah
Selain nilai D>=0 adalah D<0. Karena hasil akar dari D<0 bernilai imaginer, maka solusi akar persamaan tersebut tidak ada.
Flowchart 2:
Keterangan 2:
1. Simbol 1 menunjukkan dimulainya sebuah program.
2. Simbol 2 menunjukkan input data dari a, b dan c.
3. Simbol 3 menunjukkan suatu keputusan yang akan dipilih, yaitu jika nilai a memenuhi kriteria a > 0, maka akan melanjutkan ke proses selanjutnya. Jika tidak, maka akan kembali ke simbol 2
4. Data dari a, b dan c akan diproses pada simbol keempat dengan menggunakan perumusan D=b2-4ac  

5. Simbol 5 menunjukkan suatu keputusan yang akan dipilih, jika hasil output dari proses dari simbol 4, yaitu D >=0, maka akan melanjutkan ke proses di simbol 6y dan 7, jika tidak memenuhi, maka akan melanjutkan ke simbol 6t.
6. Simbol 6y dan 7 adalah proses perhitungan x1 dan x2.
7. Simbol 8 adalah nilai output dari proses 6y dan 7
8. Simbol 6t menunjukkan output yang berupa text “Akar Imaginer”.
9. Simbol 9 atau terakhir menujukkan berakhirnya program dengan tanda End.

Dari dua contoh kasus di atas, jelaslah bahwa diagram alir (flowchart) dapat menunjukkan logika proses berjalannya suatu program. Konsep runtunan, pemilihan dan perulangan perlu dipelajari dan dipahami terlebih dahulu sebelum melangkah ke proses pemahaman pemrograman lebih lanjut.

1.4. Syarat Program yang Baik
Program yang baik haruslah memenuhi beberapa kriteria, antara lain:
1. Program haruslah sesuai dengan tujuan dan memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.
2. Fleksibel
3. Tidak mengandung kesalahan
4. Didokumentasi secara baik
5. Cepat dalam waktu penggunaannya
6. Efesien dalam penggunaan memori komputer

1.5. Latihan
1. Buatlah sebuah rancangan program dengan menggunakan diagram alir untuk menghitung luas lingkaran!
2. Buatlah algoritma dengan pseudocode untuk menghitung rata-rata tiga buah bilangan bulat!
3. Buatlah sebuah program sederhana yang sudah pernah anda pelajari, seperti program Pascal dan lain-lain!

21 Mei 2016

ANALISIS REAL

ANALISIS REAL

PENDAHULUAN

            Pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang system bilangan real R beserta sifat-sifatnya, akan menentukan pemahaman orang itu dalam membahas konsep-konsep analisis, karena system bilangan real merupakan salah satu konsep yang mendasari pembahasan analisis.
            Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mengenali system bilangan real ini,yaitu secara konstruksi dan secara aksiomatik. Akan tetapi dalam buku ini system bilangan real akan dikenali secara aksiomatik, yaitu dengan menganggap system bilangan real memenuhi sifat-sifat tertentu yang dirumuskan dalam tiga gugusan aksioma, aksioma tersebut adalah : Aksioma Lapangan, Aksioma Urutan dan Aksioma Kelengkapan.
            Topik-topik terkait lainnya dalam system bilangan real yang dibahas adalah : Nilai Mutlak, selang, Titik Kumpul atau titik limit, himpunan terbuka dan himpunan tertutup pada R.
  1. Sifat-sifat Aljabar Bilangan Real
Aksioma 1. 1(Aksioma Lapangan)
Misalkan R menyatakan bilangan real, penjumlahan (+) dan perkalian(.) merupakan operasi biner yang didefinisikan pada R, maka
(A1) a + b = b + a untuk setiap a, b ÎR
(A2) (a + b + c) = a + ( b + c) untuk setiap a, b, c ÎR
(A3) ada unsur 0 ÎR sedemikian sehingga  0 + a = a dan a + 0 = a untuk setiap a ÎR
(A4) untuk setiap a ÎR, ada -aÎR sedemikian sehingga a +(-a) = (-a)+ a = 0.
(M1) a . b = b . a untuk setiap a, b ÎR
(M2) (a . b) c = a . ( b . c) untuk setiap a, b, c ÎR
(M3) ada unsur 1 ÎR sedemikian sehingga  1. a = a dan a .1 = a untuk setiap a ÎR
(M4) untuk setiap a ¹0ÎR, ada 1/aÎR sedemikian sehingga a .(1/a) = (1/a). a = 1.
(D) a.(b +c) = a.b + a.c dan (b +c).a = b.a + c.a untuk semua a,b,c ÎR
            Unsur 0 pada A3 dan unsur 1 pada M3, unsure negatif pada A4 dan unsure balikan pada M4 adalah tunggal. Hal ini dapat ditunjukkan dengan cara sebagai berikut:
Akan ditunjukkan bahwa unsur 0 dan unsur 1 tunggal.
Misalkan terdapat dua unsure nol, yaitu z1 dan z2, maka z1 + a = a dan z2 + a = a untuk semua a di R. akan dibuktikan bahwa z1= z2.
Karena z1 , z2 di R dan memenuhi z1 + a = a = z2 + a atau z1 + a = z2 + a, selanjutnya dengan menambahkan pada kedua ruas dengan –a, akan kita dapatkan z1 + a +(-a)= z2 + a + (-a). berdasarkan sifat A4 dan A3, maka z1= z2. Dengan cara yang sama akan kita dapatkan bahwa unsure satuan itu tunggal.

Teorema 1.1

(i)     jika z, a di R sedemikian sehingga z + a = a, maka z = 0
(ii)   jika u. b di R dan b ¹ 0 sedemikian sehingga u. b = b, maka b = 1

Bukti

(i)     karena a di R, maka berdasarkan A4, ada –a di R sedemikian sehingga a + (-a) = 0.
Jadi, (z +a) +(-a) = a +(-a) = 0 dan berdasarkan sifat A2, A4 dan A3 kita peroleh
z + (a +(-a)) = z + 0 = 0. jadi z = 0.
(ii)   Karena b di R dan b ¹ 0, maka berdasarkan sifat M4 ada unsur 1/b di R sedemikian sehingga b.(1/b) = 1. Jadi (u.b).1/b = b.(1/b) = 1 dan berdasarkan sifat M2, M4 dan M3 kita peroleh (u.b).1/b = u.( b.1/b) = u.1 = 1. Jadi u = 1.

Teorema 1.2

(i)     jika b, a di R sedemikian sehingga b + a = 0, maka b = -a
(ii)   jika a,  b di R dan a ¹ 0 sedemikian sehingga a. b = 1, maka b = 1/a

Bukti

(i)           karena a di R, maka berdasarkan A4, ada –a di R sedemikian sehingga a + (-a) = 0.
Jadi, (b +a) +(-a) = 0 +(-a) = -a  dan berdasarkan sifat A2, A4 dan A3 kita peroleh
b + (a +(-a)) = b + 0 = -a. jadi b = -a.
(ii)         Karena a di R dan a ¹ 0, maka berdasarkan sifat M4 ada unsure 1/a di R sedemikian sehingga a.(1/a) = 1. Jadi (b.a).1/a = 1.(1/a) = 1/a dan berdasarkan sifat M2, M4 dan M3 kita peroleh (b.a).1/a = b.( a.1/a) = b.1 = 1/a.
Jadi b = 1/a.
Berikut ini akan diberikan teorema yang berkaitan dengan penyelesaian suatu persaman dan ketunggalan dari sebuah solusi.

 

Teorema 1.3

Misalkan a, b ÎR, maka
(i)           Persamaan a + x = b mempunyai penyelesaian tunggal yaitu x = (-a) + b
(ii)         Jika a ¹ 0 dan persamaan a.x = b mempunyai penyelesaian tunggal x = (1/a).b

Bukti

(i)           pertama akan ditunjukkan bahwa a + x = b mempunyai penyelesaian. Dengan menambahkan –a pada kedua ruasnya dan dengan menggunakan aksioma lapangan R akan kita dapatkan (-a) + a + x = (-a) + b atau (-a) + a + x = 0 + x = x = (-a) + b.
         kedua akan ditunjukkan bahwa solusinya tunggal. Misalkan ada penyelesaian yang lain yaitu x1. Misalkan x1 ¹ x, karena x1 solusi, maka a + x1 = b, akan tetapi  a + x1 ¹ a + x atau a + x1 ¹ b. hal ini kontradiksi bahwa x1 adalah solusi. Jadi haruslah x = x1.
(ii)         Buktikan sebagai latihan anda.
















BILANGAN NEGATIF DAN BILANGAN RASIONAL

            Pada bagian ini, kita akan mempelajari beberapa teorema yang berkaitan dengan perkalian bilangan negatif dan bilangan rasional. Dibahas pula tentang sifat bilangan yang dikalikan dengan nol, bilangan yang dikalikan dengan negatif, dan hasil kali bilangan negatif dikalikan dengan bilangan negatif lainnya. Demikian pula akan dikaji tentang sifat bilangan rasional dan bilangan irasional.
            Untuk itu, perhatikan dengan baik dan pahami beberapa teorema berikut,
Teorema 2.1
Misalkan a ÎR, maka
(i)                 a. 0 = 0
(ii)               (-1). a = -a
(iii)             – (-a) = a
(iv)             (-1).(-1) = 1

Bukti

(i)           Berdasarkan M3, kita ketahui bahwa a.1 = a. Disini
a + a . 0 = a . 1 + a . 0 = a . (1 + 0)
              = a . 1 = a
         Berdasarkan teorema 1.1, kita simpulkan bahwa a . 0 = 0
(ii)         Hal ini dapat dilihat bahwa
a + (-1) . a = 1 . a + (-1) . a = (1 +(-1)) . a = 0 . a = 0
Berdasarkan teorema 1.2, dapat kita simpulkan (-1) . a = -a
(iii)       Berdasarkan A4 kita punyai bahwa –a + a = 0, dan berdasarkan teorema 1.2 kita peroleh bahwa a = -(-a)
(iv)       Pada bagian (ii), substitusikan a = -1 sehingga kita peroleh –(-1) = (-1).(-1). Kemudian berdasarkan bagian (iii) dengan mengambil a = 1.

 



Teorema 2.2

(a)         Jika a ÎR dan a¹0, maka 1/a ¹ 0 dan 1/(1/a) = a
(b)         Jika a, b ÎR dan a . b = 0, maka a = 0 atau b = 0
(c)          Jika a, b ÎR, maka (-a).(-b) = a . b
(d)         Jika a ÎR dan a ¹ 0, maka 1/(-a) = -(1/a)

Bukti

(a)         jika a ¹ 0, maka 1/a ¹ 0.
andaikan 1/a = 0, maka 1 = a. (1/a) = a.0 = 0.
hal ini bertentangan dengan M4.
karena a. (1/a) = 1, berdasarkan teorema 1.2, maka a = 1/(1/a)
(b)         Misalkan bahwa a.b = 0 dan a ¹ 0.
jika kita kalikan dengan 1/a pada kedua ruasnya, maka akan didapatkan
b = 1.b = ((1/a).a).b = (1/a). (a.b) = (1/a). 0 = 0.
dengan alasan yang sama dapat digunakan untuk menunjukkan
jika b ¹ 0, maka diperoleh a = 0.
(c)          Berdasarkan teorema 1.4, kita punyai –a = (-1).a dan –b =(-1).b, sehingga
(-a) . (-b) = ((-1).a).((-1).b) = (a.(-1)).((-1).b)
= a. ((-1).(-1)) . b = a . 1 . b = a.b
(d)         Jika a ¹ 0, maka 1/a ¹ 0 dan –a ¹ 0.
Karena a .(1/a) = 1. hal ini menunjukkan berdasarkan bagian (c) bahwa (-a) . (-(1/a)) = 1. jika kita gunakan teorema 1.2, kita dapat memperoleh bahwa 1/(-a) = -(1/a).

Bilangan Rasional
            Sekarang kita akan memperumum notasi perkalian (.) dan dituliskan ab untuk a.b. Sama halnya dengan a2 untuk aa, a3 untuk aaa = (a2)a, dan jika n ÎN, kita definisikan bahwa an + 1= (an) a. Berdasarkan prinsip induksi matematika dapat ditunjukkan bahwa jika m,n ÎN, maka am + n = am. an, untuk sembarang a ÎR. sama halnya dengan kita menuliskan 2 = 1 + 1, 3 = 2 + 1, dan seterusnya. Selanjutnya, kita menuliskan secara umum bahwa b – a = (-a) + b = b + (-a), dan juga generalisasi dari b/a = (1/a).b = b.(1/a). kita juga mendefinisikan bahwa a-1 = 1/a dan a-n = 1/an.
            Elemen dari R yang berbentuk b/a atau –b/a untuk a,b ÎN dengan a ¹ 0 dikatakan sebagai Bilangan Rasional, dan semua himpunan bilangan rasional dalam R dinotasikan dengan Q. Semua elemen dari R yang bukan bilangan rasional disebut Bilangan Irasional.

Teorema 2.3
Tidak ada bilangan rasional r sedemikian sehingga r2 = 2
Bukti
Andaikan r ÎQ, maka r = p/q, q¹0 dengan p,q anggota bilangan bulat. Tanpa mengurangi keumuman, misalkan p dan q tidak mempunyai factor persekutuan selain 1. karena 2 = p2/q2 atau p2 = 2 q2, maka p haruslah bilangan genap(jika p ganjil, misal p = 2k + 1, maka p2 = 4k2 + 4k + 1 = 2(2k2 + 2k) + 1 adalah ganjil). Selanjutnya misalkan p = 2m untuk sembarang bilangan bulat m dan berlaku 4m2 = 2q2. hal ini menunjukkan bahwa q2 = 2m2, dimana q bilangan genap. Hal ini kontradiksi dengan pemisalan bahwa p dan q tidak mempunyai factor persekutuan selain 1( karena p dan q bilangan genap). Jadi   tidak bilangan rasional r sedemikian sehingga r2 = 2.

Soal Latihan
1.      Jika a ÎR dan memenuhi a.a = a. Buktikan bahwa salah satu a = 0 atau a = 1
2.      Jika a ¹ 0 dan b ¹ 0, tunjukkan bahwa 1/ab = 1/a . 1/b
3.      Misalkan a,b,cÎR, buktikan
a.      Jika a + b = 0 dan a + c = 0, maka b = c = -a
b.      Jika a ¹ 0, ab = 1 dan ac = 1, maka b = c = 1/a
4.      Buktikan bahwa tidak ada r sedemikian sehingga r2 = 6 dan r2 = 3










URUTAN BILANGAN REAL

            Pada pembahasan sebelumnya, kita belum menentukan bilangan real yang lebih besar atau yang lebih kecil. Hal ini dilandaskan karena belum adanya alsioma atau teorema yang mengatakan tentang bilangan positif. Untuk  itu, pada kajian ini, kita akan membahas tentang sifat urutan yang ada pada bilangan real.
            Sebelumnya tentu baik bagi kita untuk mempelajari tentang sebuah aksioma mengenai urutan. Aksioma ini sangat bermanfaat untuk menentukan apakah sebuah bilangan termasuk bilangan positif, termasuk bilangan negatif, atau lainnya. Aksioma inilah yang akan menjadi landasan hadirnya tanda ketaksamaan, seperti, <, >, ³, dan £.

Sifat-sifat Urutan dari R
            Pada bagian berikut ini akan dibahas sifat-sifat urutan dari R yang sangat penting peranannya dalam subbarisan.
Aksioma 3.1(Aksioma Urutan)
Subhimpunan tak-kosong P dari R dinamakan himpunan bilangan real positif, jika memenuhi sifat-sifat berikut;
(i)                 Jika a,b ÎP, maka a + bÎP
(ii)               Jika a,b ÎP, maka a . bÎP
(iii)             Jika a Î R, maka salah satu dari ketiga sifat berikut dipenuhi a Î P, a = 0 atau –a Î P (sifat trikothomi)
Definisi 3.2
(i)                 Jika a ÎP, maka a bilangan positif yang dituliskan dengan a > 0
(ii)               Jika a ÎP atau a = 0, maka a dikatakan bukan bilangan negatif yang dituliskan dengan a ³ 0
(iii)             Jika –a ÎP, maka dikatakan a bilangan negatif yang dituliskan dengan a < 0
(iv)             Jika –a ÎP atau a = 0, maka a dikatakan bukan bilangan positif yang dituliskan dengan a £ 0
Definisi 3.3
Misalkan a,b ÎR
(i)                 Jika a – b ÎP, maka a > b
(ii)               Jika –(a – b) ÎP, maka a < b
(iii)             Jika a – b ÎP È {0}, maka a ³ b
(iv)             Jika –(a – b) ÎP È {0}, maka a £ b

Teorema 3.4
Misalkan a, b, c ÎR
(a)   Jika a > b dan b > c, maka a > c
(b)   Satu dan hanya satu dari hubungan berikut berlaku :  a < b, a = b, a > b
(c)    Jika a ³ b dan b ³ a, maka a = b
Bukti
(a)   karena a > b dan b > c, maka a – b ÎP dan b – c ÎP.
Berdasarkan aksioma urutan (i), maka
(a – b) + (b – c) = a + ((-b) + b) – c = a + 0 – c = a – c Î P.
Hal ini menunjukkan bahwa berdasarkan definisi 3.3, kita peroleh a > c.
(b)   Berdasarkan sifat trikotomi dan definisi 5.3, maka a – b ÎP, a – b = 0 atau –(a–b) ÎP.
(c)    Andaikan a ¹ b, maka berdasarkan bagian (b) kita peroleh bahwa a – b ÎP atau b – a ÎP, di mana a > b atau b > a. hal ini kontradiksi dengan yang diketahui. Jadi haruslah a = b.
Teorema 3.5
(a)                                       Jika a ¹ 0 ÎR, maka a2 > 0
(b)                                       1 > 0
(c)                                        Jika n Î N, maka n > 0
Bukti
(a)               Karena a ¹ 0, maka a atau –a di P. Jika a di P, maka berdasarkan aksioma a2 = aa di P. Jika –a di P, maka berdasarkan teorema 1.5 a2 = (-a).(-a) di P. jadi, dalam tiap kasus a2 ÎP.
(b)               Ambil a = 1 pada bagian (a) sehingga 1 = 12 di P
(c)                Buktikan sendiri dengan menggunakan induksi matematika.
Teorema 3.6
Misalkan a, b, c ÎR
(a)               Jika a > b, maka a + c > b + c
(b)               Jika a > b dan c > d, maka a + c > b + d
(c)                Jika a > b dan c > 0, maka ac > bc
(d)               Jika a > b dan c < 0, maka ac < bc
(e)                Jika a > 0, maka 1/a > 0
(f)                 Jika a < 0, maka 1/a < 0
Bukti
(a)   Karena a > b, maka a – b di P.  Sedangkan a – b = a – b + 0 = a – b + c + (-c) = a + c – (b + c) di P. Jadi, berdasarkan definisi dapat kita simpulkan bahwa a + c > b + c.
(b)   Karena a > b dan c > d, maka a – b dan c – d di P. Berdasarkan aksioma urutan dapat diperoleh (a – b) + (c – d) = (a + c) – (b + d) di P. Hal ini menunjukkan bahwa a + c > b + d.
(c)    a > b dan c > 0, berdasarkan definisi 3.1 dan 3.2 kita peroleh (a – b).c di P. berdasarkan sifat distributive, maka (a – b).c = ac – bc di P. Jadi ac > bc.
(d)   a > b dan c < 0, berdasarkan definisi 3.1 dan 3.2 kita peroleh (a – b).(-c) di P. berdasarkan sifat distributive, maka (a – b).(-c) = -ac + bc di P. Jadi ac < bc.
(e)    Jika a > 0, maka berdasarkan sifat trikotomi a ¹ 0 sedemikian sehingga 1/a ada.  Jika 1/a = 0, maka 1 = a.(1/a) = 0, kontradiksi. Jika 1/a < 0, maka berdasarkan bagan (d) dengan c = 1/a berakibat 1 = a (1/a) < 0, kontradiksi. Jadi, haruslah 1/a > 0.
(f)     Gunakan alasan yang sama dengan (e)

Teorema 3.7
Jika a > b, maka a > ½(a + b) > b
Bukti
Karena a > b, maka berdasarkan teorema 3.6 kita dapatkan a + a = 2a > a + b. Demikian juga a + b > 2b. Karena 2 > 0, maka berdasarkan teorema 3.6 (e) ½ > 0. Selanjutnya gunakan c = ½ pada teorema 3.6 (c) sedemikian sehingga a > ½(a + b) dan ½(a + b) > b. Jadi, berdasarkan teorema 3.4  a > ½(a + b) > b


Teorema 3.8
Jika ab > 0, maka a > 0 dan b > 0 atau a < 0 dan b < 0.
Bukti
Jika ab > 0, maka a ¹ 0 dan b ¹ 0. Jika a > 0, maka (1/a( > 0. Dengan demikian b = ((1/a)a)b = (1/a).(ab) > 0. Dengan kata lain, jika a < 0, maka 1/a < 0, hal ini menunjukkan bahwa b = ((1/a)a)b = (1/a).(ab) < 0.
Akibat 3. 9
Jika ab < 0, maka a > 0 dan b < 0 atau a < 0 dan b > 0.

Soal Latihan
Misalkan a, b , c dan d ÎR
1.            Jika 0 < a < b dan 0 < c < d, maka buktikan 0 < ac < bd
2.            Jika 0 £ a < b buktikan bahwa a2 £ ab < b2
3.            Jika a, b ÎR dan a2 + b2 = 0. tunjukkan bahwa a = b = 0.
4.            Jika n Î N, tunjukkan bahwa n2 ³ n dan 1/n2 £ 1/n.
5.            Jika a > -1, a Î R, tunjukkan bahwa (1 + a)n ³ 1 + na untuk setiap n Î N.
6.            Jika c > 1, c Î R, tunjukkan bahwa cn ³ c untuk setiap n Î N.
7.            Jika c > 1, c Î R, tunjukkan bahwa cm ³ cn untuk setiap m ³ n dengan m,n Î N.

















Nilai Mutlak

            Sebuah konsep yang sangat penting dalam bilangan real adalah tentang harga mutlak. Ini merupakan sebuah konsep yang bermanfaat untuk menentukan besaran jarak, panjang vektor, akr sebuah bilangan dan lain sebagainya.
            Hal yang mendasar dari konsep harga mutlak adalah tentang definisi atau pengertian dan sebuah ketaksamaan, yaitu ketaksamaan segitiga.  Dalam matematika sekolah, harga mutlak biasanya digunakan dalam bahasan tentang pertidaksamaan, panjang vektor.

Definisi 4.1
Jika a Î R, nilai mutlak dari a dinotasikan dengan | a | dan didefinsikan dengan
            | a | = a                     jika a ³ 0
                      = -a                    jika a < 0
Jadi domain dari nilai mutlak adalah semua bilangan real dengan range P È {0}, dan peta dari a dan –a adalah sebuah elemen yang sama.

Teorema 4.2
(a)   | a | = 0 jika dan hanya jika a = 0
(b)   | -a | = | a | untuk setiap a anggota R
(c)    | ab | = | a | | b | untuk setiap a,b anggota R
(d)   Jika c ³ 0, maka | a | £ c jika dan hanya jika –c £ a £ c
(e)    -| a | £ a £ | a | untuk setiap a anggota R

Bukti
(a)   Jika a = 0, maka berdasarkan definisi | 0 | = 0. Jika a ¹ 0, maka –a ¹ 0 sedemikian sehingga | a | ¹ 0.
(b)   Jika a = 0, maka | 0 | = 0 = | -0 |. Jika a > 0, maka | a | = a = | -a |. Jika a < 0, maka | a | = -a = | -a |.
(c)    Jika a > 0 dan b > 0, maka ab > 0 sedemikian sehingga | ab | = ab = | a |. | b |. Jika a > 0 dan b < 0, maka ab < 0 sedemikian sehingga | ab | = -(ab) = a. (-b) = | a |. | b |  Jika a < 0 dan b > 0, maka ab < 0 sedemikian sehingga | ab | = -(ab) = (-a).b = | a |. | b |. Jika a < 0 dan b < 0, maka ab > 0 sedemikian sehingga | ab | = a.b = (-a). (-b) = | a |. | b |
(d)   Andaikan a ³ 0, maka | a | = a sedemikian sehingga  | a | = a £ c. Bila a < 0, maka | a | = -a £ c atau –c £ a. Jadi, berdasarkan sifat urutan kita peroleh –c £ a £ c. bukti konversnya sebagai latihan sendiri.
(e)    Gunakan bukti bagian (d) dengan mengambil c = | a |.

Teorema 4.3 (Ketaksamaan Segitiga)
Jika a, b sembarang bilangan real, maka ||a| - |b||  £ | a ± b | £ | a | + | b |

Bukti
Berdasarkan teorema 4.1, kita punya -| a | £ a £ | a | dan -| b | £  ±£ | b | berdasarkan teorema 4.2 kita simpulkan bahwa –(|a| + |b|) = -|a| - |b| £  a ±£ | a | + | b |. Berdasarkan teorema 3.11 kita dapatkan | a ± b | £ | a | + | b |.
Karena |a| = |(a –b) + b| £ | a –b | + | b |, hal ini menunjukkan bahwa |a| - |b| £ | a - b |. Dengan cara yang sama akan kita dapatkan juga bahwa |b| - |a| £ | a - b |. Dari kedua ketaksamaan tersebut dapat disimpulkan bahwa ||a| - |b|| £ | a - b |.

Akibat 4.4
Jika a1, a2, a3, . . ., an adalah sembarang bilangan real, maka
| a1+ a2 + a3 + . . . + an£ | a1| + | a2| + | a3| + . . . + | an|
Bukti
Jika n = 2 telah dibuktikan di atas, sedangkan untuk n > 2 kita gunakan induksi dan sifat ketaksamaan segitiga di atas bahwa,
| a1+ a2 + a3 + . . . + ak+ ak+1 |  = | (a1+ a2+ a3+ . . . + ak) + ak+1|
                                                 £ |(a1+ a2+ a3+ . . . + ak)| +| ak+1|
Soal Latihan

1.            Misalkan d>0, aÎR. Tunjukkan bahwa a - d < x < a+d jika dan hanya jika |x –a|< d.
2.            Jika a,b Î R dan b ¹0. Tunjukkan bahwa | a/b | = |a|/|b|.
3.            Sketsalah titik (x, y) pada daerah R x R (cartesius) yang memenuhi |x| + |y| = 1
4.            Jika x, y, z Î R, maka x £ y £ z jika dan hanya jika |x-y| + |y-z| = |x-z|
5.            Jika 0 < a < 1, maka 0 < a2 < a < 1, tetapi jika 1 < a, maka 1 < a < a2.






























SIFAT KELENGKAPAN BILANGAN REAL

            Selain memiliki urutan, bilangan real juga memiliki sifat yang dikenal dengan nama sifat kelengkapan. Sifat ini mengkaji tentang bilangan real dalam sebuah himpunan tertentu. Dalam hal ini, apakah himpunan tersebut memiliki batas, memiliki nilai maksimum dan minimum, atau memiliki suprimum dan infrimum.
            Sifat ini akan membawa kita pada konsep himpunan terbuka dan himpunan tertutup. Beberapa definisi dan teorema akan digunakan untuk mengkaji tentang sifat kelengkapan bilangan real tersebut.

Sifat-sifat Kelengkapan dari R
            Dalam bagian ini kita akan membahas satu lagi sifat dari system bilangan real yang seringkali dinamakan dengan “Aksioma Kelengkapan”.

Suprimum dan Infimum

Definisi 5.1

Misalkan s adalah subhimpunan dari R
(a)   sebuah elemen u Î R dikatakan batas atas dari S jika s £ u, untuk setiap s Î S
(b)   sebuah elemen w Î R dikatakan batas bawah dari S jika s ³ w, untuk setiap s Î S
Sebagai catatan bahwa subhimpunan S Í R mungkin saja tidak memiliki batas atas (sebagai contoh S = R). Selanjutnya, jika memiliki satu batas atas, maka subhimpunan tersebut memiliki takhingga banyak batas atas ( untuk sebuah batas atas u dari S, maka u + n juga merupakan batas atas dari S dengan n ÎN). Misalkan S1={x ÎR : 0 < x < 1} memiliki batas atas 1, kenyataanya, setiap bilangan u ³ 1 adalah sebuah batas atas dari S1. Sama halnya juga dengan S2 = { xÎR | 0 £ x £ 1}yang memiliki batas atas 1.
            Untuk menunjukkan bahwa sebuah bilangan u Î R bukan sebuah batas atas dari S Í R, kita harus menunjukkan ada sebuah elemen soÎ R sedemikian sehingga u < so.
            Sebuah himpunan yang memiliki batas atas dikatakan sebagai himpunan yang terbatas di atas, dan himpunan yang memiliki batas bawah disebut sebagai himpunan yang terbatas di bawah. Jika himpunan memiliki batas atas dan batas bawah, maka himpunan tersebut disebut himpunan yang terbatas. Jika himpunan tidak memiliki kedua batasnya, maka dikatakan himpunan tersebut tidak terbatas. Jadi, himpunan S1 dan S2 adalah himpunan yang terbatas, sedangkan himpunan P = { x ÎR : x > 0} adalah himpunan yang tidak terbatas karena tidak mempunyai batas atas.
            Apabila u batas atas dari S dan u Î S, maka u adalah maksimum dari S atau u = maks S. Sedangkan jika w batas bawah dari S dan w Î S, maka w adalah minimum dari S atau w = Min S.

Definisi 5.2

Misalkan S subhimpunan dari R
(a)    Jika S terbatas di atas, maka batas atas dari S dikatakan Suprimum (batas atas terkecil) apabila batas atas tersebut lebih kecil dari batas atas lainnya.
(b)    Jika S terbatas di bawah, maka batas bawah dari S dikatakan Infrimum (batas bawah terbesar) apabila batas bawah tersebut lebih besar dari batas bawah lainnya.
Definisi di atas mempunyai pengertian bahwa sebuah bilangan u Î R adalah suprimum dari subhimpunan S dari R jika memenuhi dua kondisi berikut:
(i)                 s £ u untuk setiap s Î S
(ii)               Jika v adalah sebuah bilangan sedemikian sehingga s £ v untuk setiap s Î S, maka u £ v.

Lemma 5.3

Sebuah bilangan u Î R adalah suprimum dari subhimpunan takkosong S ÍR jika dan hanya jika memenuhi sifat-sifat
(i)                 Tidak ada elemen s Î S dengan u < s
(ii)               Jika v < u, maka ada elemen soÎ S sedemikian sehingga v < so.

Bukti

(¬) misalkan u memenuhi (i) dan (ii). Hal ini menunjukkan bahwa u batas atas dari S. Jika v adalah bilangan dengan v < u, maka sifat (ii) menunjukkan bahwa v bukan batas atas dari S. dengan demikian u adalah suprimum dari S.
(®) misalkan u adalah suprimum dari S. karena u adalah batas atas dari S, kondisi (i) terpenuhi. Jika v < u, maka v bukan batas atas dari S. selanjutnya terdapat sebuah elemen so Î S sedemikian sehingga v < so.

Lemma 5.4

Misalkan S ¹ Æ, S Í R dan u batas atas dari S, u = Sup S jika dan hanya jika untuk setiap e > 0 ada xe Î S sedemikian sehingga u - e < xe.

Sifat Suprimum 5.5

Setiap himpunan tak-kosong dari bilangan real yang mempunyai batas atas mempunyai suprimum.

Sifat Suprimum 5.6

Setiap himpunan tak-kosong dari bilangan real yang mempunyai batas bawah mempunyai infrimum.
Contoh 1
Misalkan S = { x ÎR : 0 < x < 1 }, maka Sup S = 1
Bukti
Karena 1ÎR dan x < 1 untuk semua x ÎS, maka menurut definisi 1 adalah batas atas dari S. Misalkan e > 0 sembarang.
Jika e ³ 1, maka 1 - e < x untuk setiap x di S. Jadi untuk semua xe di S berlaku 1 - e < xe.
Jika 0 < e < 1, maka pilih xe = 1- e/2 di S, maka 1 - e < xe =1- e/2
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk setiap e > 0 ada xe Î S sedemikian sehingga 1 - e < xe, hal ini menunjukkan bahwa Sup S = 1.

Lemma 5.8

Misalkan S ¹ Æ, S Í R dan w batas bawah dari S, w = Inf S jika dan hanya jika untuk setiap e > 0 ada xe Î S sedemikian sehingga xe  < w + e.
Contoh 2
0 = Inf(0,1)
Bukti
Karena 0ÎR dan x > 0 untuk semua x Î(0, 1), maka menurut definisi 0 adalah batas bawah dari (0, 1). Misalkan e > 0 sembarang.
Jika e ³ 1, maka x < 0 + e untuk setiap x di S. Jadi untuk semua xe di S berlaku xe < 0 + e .
Jika 0 < e < 1, maka pilih xe = e/2 di S, maka  xe = e/2 < 0 + e
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk setiap e > 0 ada xe Î S sedemikian sehingga  xe < 0 + e, hal ini menunjukkan bahwa Inf S = 0.

Soal Latihan

1.      Perlihatkan bahwa 3 = Sup [2, 3] dan 2 = Inf [2, 3]
1.      Buktikan bahwa 2 = Inf (2,5) dan 5 = Sup(2,5)
2.      Tunjukkan bahwa 4 = Inf [4,8] dan 8 = Sup [4,8]
3.      Misalkan  A = { 1 –( (-1)n/n )}. Tentukan Sup A dan Inf A
4.      Apakah A = { x ÎR : x  ³ 2 } mempunyai batas bawah dan batas atas? Jelaskan jawaban Saudara!
5.      Misalkan P Í R dan P ¹ Æ, tunjukkan u = Sup P jika dan hanya jika untuk setiap n ÎN bilangan u –1/n bukan batas atas P tetapi u + 1/n batas atas dari P.
6.      Jika Sup A = a dan Sup B = b, buktikan Sup (A + B) = a + b
7.      Jika Inf A = a dan Inf B = b, buktikan Inf (A + B) = a + b
8.      Buktikan Inf A = Sup(-A)
9.      Jika S subhimpunan R yang memuat batas atas, maka tunjukkan bahwa batas tersebut adalah supremum dari S
10.  Buktikan bahwa gabungan dari dua himpunan terbatas adalah terbatas
11.  Jika S terbatas di R dan jika S0 subhimpunan takkosong dari S, maka tunjukkan bahwa inf S £ inf S0 £ sup S0 £ sup S
12.  Misalkan B subhimpunan terbatas dari R dan A ={-x|xÎB}, tunjukkan bahwa
a. inf A = sup B                b. sup A = inf B








Sifat Archimedian

            Salah satu konsekuensi dari sifat suprimum adalah subhimpunan bilangan asli N dari R tidak terbatas di atas. Khususnya adalah jika diberikan sembarang bilangan real x, maka ada bilangan asli n sedemikian sehingga n lebih besar dari x.

Aksioma 6.1 (aksioma archimides)
Jika x ÎR, terdapat bilangan asli nxÎR sedemikian sehingga x < nx
Bukti
Andaikan x > nx, maka x batas atas dari N. Selanjutnya berdasarkan sifat suprimum, N memiliki suprimum u. karena x batas atas dari N, ini menunjukkan bahwa u £ x. Karena u –1 < u, berdasarkan lemma 5.3 ada bilangan asli n1 sedemikian sehingga u – 1 < n1 atau u < 1 + n1, tetapi n1+1 adalah bilangan asli. Hal ini kontradiksi dengan pengandaian bahwa u batas atas dari N.

Akibat 6.2
Misalkan x dan y bilangan real positif
(b)   Ada bilangan asli n sedemikian sehingga ny > x
(c)    Ada bilangan asli n sedemikian sehingga 0 < 1/n < y
(d)   Ada bilangan asli n sedemikian sehingga n –1 £ y < n
Bukti
(a)   karena x dan y positif, maka z = x/y juga positif. Misalkan n bilangan asli sedemikian sehingga x/y = z < n, maka x < ny atau ny > x.
(b)   Pilih x = 1 sehingga bagian (a) menunjukkan 0 < 1 < ny. Hal ini menunjukkan bahwa 0 < 1/n < y.
(c)    Berdasarkan aksioma archimides, terdapat bilangan asli m sedemikian sehingga y < m. Misalkan n bilangan asli terkecil sedemikian sehingga n – 1 £ y < n.



Teorema 6.3(eksistensi Ö2)
Ada bilangan positif x ÎR sedemikian sehingga x2 = 2
Bukti
Misalkan S = { y ÎR: 0 £ y, y2£ 2}. Himpunan S terbatas di atas oleh 2, Jika tidak, maka ada elemen s di S sehingga 2 < s di mana 4 < s2 £ 2, sebuah kontradiksi. Berdasarkan sifat suprimum dan misalkan x = Sup S. Jadi, x > 0.
Andaikan x2 ¹ 2, ini berarti x2 < 2 atau x2 > 2.
Jika x2 < 2, misalkan n bilangan asli yang dipilih sedemikian sehingga 1/n < (2 –x 2)/(2x + 1). Dalam kasus ini,
(x + 1/n )2 = x2 + 2x/n + 1/n2 £ x2 + (2x +1)/n < x2 + (2 –x2) = 2 yang berarti x + 1/n ÎS, kontradiksi bahwa x adalah batas atas dari S.
Jka x2 > 2, kita pilih m bilangan asli sedemikian sehingga 1/m < (x2 –2)/2x. Karena x = Sup S, ada bilangan so di S dengan x – 1/m < so. Tetapi implikasinya adalah
2 < x2 –2x/m < x2 –2x/m +1/m2 = (x –1/m)2 < so2.
Disini so2>2, kontradiksi dengan so di S.
Dari dua kasus di atas, x2 < 2 dan x2 > 2, terlihat bahwa akan diperoleh kontradiksi. Jadi haruslah x2 = 2.

Teorema 6.4
Jika x, y ÎR, 0 < x < y, maka ada r ÎQ sedemikian sehingga x < r < y
Bukti
Karena x, y di R dan 0 < x < y, maka y – x > 0 dan y – x ÎR. Sedangkan diketahui bahwa 1 > 0, maka berdasarkan aksioma arcimides ada n ÎN sedemikian sehingga 1 < n(y – x) atau nx + 1 < ny. Karena x > 0 dan nx > 0, ada m ÎN sedemikian sehingga m –1 £ nx < m. hal ini mengakibatkan m £ nx + 1 < ny atau m < ny. Berdasarkan teorema tentang urutan maka nx < m < ny atau x < m/n < y. pilih r = m/n, m,n ÎN yang berarti r ÎQ.

Soal Latihan
1.      Jika x > 0 tunjukkan bahwa ada bilangan asli n sedemikian sehingga 1/2n < x.
2.      Tunjukkan ada x ÎR, x > 0 sedemikian sehingga x2 = 3

Karena x Î [an, bn] dan [an, bn] < e, maka [an, bn]Í Ve(x). Karena [an, bn] Ç S himpunan tak berhingga atau [an, bn] memuat tak berhingga unsure S dan [an, bn] Í Ve(x), maka Ve(x) ÇS himpunan tak berhingga. Karena itu x Î S1.